MENDULANG ILMU DARI DA’WAH TAUHID NABIYYULLAH IBRAHIM
KHUTBAH IDUL ADHA 10 DZULHIJJAH 1428 H
MENDULANG ILMU DARI DA’WAH TAUHID NABIYYULLAH IBRAHIM
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ, وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ, وَ أَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ:
“فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ شَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ .
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الله أَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin sidang shalat Id rahimakumullah…
Alhamdulillah….segala puja dan puji hanya milik Allah atas segala ni’mat dan karunia-Nya yang dianugerahkan kepada kita, terutama ni’mat Iman dan Islam dan lebih dari itu adalah ni’mat Mengikuti Sunnah dan tuntunan Rasulullah, Nabi kita Muhammad n .
Pada hari ini kita merayakan hari raya idul Adha, salah satu dari dua hari raya tahunan Islam. Hari ini adalah hari bersejarah; yaitu sejarah perjuangan seorang Nabi, Rasul dan Kekasih Allah Ibrahim q . Imam ahli tauhid, imam kaum mu’minin yang mana Nabi kita Muhammad n diperintahkan untuk mengikuti agama dan tuntunannya, Allah ta’ala berfirman :
“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. (Q.S. an-Nahl : 123).
Demikian pula kepada kaum mu’minin diperintahkan untuk mengikuti agama beliau, Allah ta’ala berfirman :
“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Ali- Imraan : 95).
Mengapa kita diperintahkan untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim ? jawabannya adalah karena agama beliau adalah hidayah, agama beliau menunjuki manusia kepada jalan yang lurus, yaitu agama hanif, agama tauhid, menyembah hanya kepada Allah semata, Allah Ta’ala berfirman :
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik”. (Q.S. al-An’aam : 161).
Beliau adalah orang yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah, taat dan pasrah dalam menjalankan segala perintah-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah engkau!, Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam”. (Q.S. al-Baqarah : 131).
“أَنَّ زَيْدَ بْنَ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ يَسْأَلُ عَنْ الدِّينِ وَيَتْبَعُهُ. فَلَقِيَ عَالِمًا مِنْ الْيَهُودِ, فَسَأَلَهُ عَنْ دِينِهِمْ فَقَالَ: “إِنِّي لَعَلِّي أَنْ أَدِينَ دِينَكُمْ” فَأَخْبِرْنِي, فَقَالَ: “لاَ تَكُونُ عَلَى دِينِنَا حَتَّى تَأْخُذَ بِنَصِيبِكَ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ. قَالَ زَيْدٌ: “مَا أَفِرُّ إِلاَّ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ, وَلاَ أَحْمِلُ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ شَيْئًا أَبَدًا, وَأَنَّى أَسْتَطِيعُهُ, فَهَلْ تَدُلُّنِي عَلَى غَيْرِهِ؟ قَالَ: “مَا أَعْلَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ حَنِيفًا. قَالَ زَيْدٌ: “وَمَا الْحَنِيفُ؟, قَالَ: “دِينُ إِبْرَاهِيمَ, لَمْ يَكُنْ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلاَ يَعْبُدُ إِلاَّ اللَّهَ. فَخَرَجَ زَيْدٌ, فَلَقِيَ عَالِمًا مِنْ النَّصَارَى فَذَكَرَ مِثْلَهُ. فَقَالَ: “لَنْ تَكُونَ عَلَى دِينِنَا حَتَّى تَأْخُذَ بِنَصِيبِكَ مِنْ لَعْنَةِ اللَّهِ, قَالَ: “مَا أَفِرُّ إِلاَّ مِنْ لَعْنَةِ اللَّهِ, وَلاَ أَحْمِلُ مِنْ لَعْنَةِ اللَّهِ وَلاَ مِنْ غَضَبِهِ شَيْئًا أَبَدًا, وَأَنَّى أَسْتَطِيعُ, فَهَلْ تَدُلُّنِي عَلَى غَيْرِهِ؟ قَالَ: “مَا أَعْلَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ حَنِيفًا. قَالَ: “وَمَا الْحَنِيفُ؟” قَالَ: “دِينُ إِبْرَاهِيمَ, لَمْ يَكُنْ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلاَ يَعْبُدُ إِلاَّ اللَّهَ”. فَلَمَّا رَأَى زَيْدٌ قَوْلَهُمْ فِي إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم, خَرَجَ. فَلَمَّا بَرَزَ, رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: “اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْهَدُ أَنِّي عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ”.
Seorang quraisy bernama Zaid bin Amar bin Nufail, pernah bepergian menuju negeri Syam untuk bertanya tentang sebuah agama yang akan diikutinya. Beliau bertemu dengan seorang ulama yahudi, lalu dia bertanya tentang agama mereka, semoga saya bisa beragama dengan agama kalian, tukasnya. Sang alim yahudi itu berkata : “Kamu tidak dapat menganut agama kami hingga kamu memperoleh bagaian dari murka Allah. Kata Zaid : “Tidaklah aku lari kecuali dari murka Allah, dan tidak mungkin aku mampu memikul murka Allah selamanya, Bagaimana mungkin aku mampu memikulnya?”. Maukah kamu menunjuki aku agama selainnya? Pendeta itu berkata : “Aku tidak mengetahui kecuali kamu menjadi pengikut agama hanif (agama tauhid)”. “Apakah agama hanif itu?”, tanya Zaid. Ia menjawab : “Agama Ibrahim, dia bukan seorang penganut yahudi dan bukan pula penganut nasrani, dia tidak menyembah kecuali kepada Allah”. Maka Zaidpun pergi lalu menemui seorang pendeta nasrani. Zaid bertanya kepadanya seperti pertanyaannya kepada pendeta yahudi itu. Pendeta nasrani itu berkata kepadanya : “Kamu tidak akan bisa menganut agama kami hingga kamu memperoleh bagaian dari laknat Allah. Kata Zaid : “Tidaklah aku lari melainkan dari laknat Allah, dan aku tidak mampu memikul laknat dan murka-Nya sedikitpun selamanya, bagaimana mungkin aku memikulnya? Maukah kamu menunjuki aku agama selainnya? Pendeta itu berkata : “Aku tidak mengetahui kecuali kamu menjadi pengikut agama hanif (agama tauhid). “Apakah agama hanif itu?”, tanya Zaid. Ia menjawab : “Agama Ibrahim, dia bukan seorang penganut yahudi dan bukan pula penganut nasrani, dia tidak menyembah kecuali kepada Allah”. Tatkala Zaid melihat pendapat mereka terhadap Ibrahim q (seperti itu), diapun keluar dan setelah keluar dari negeri mereka, Zaid berkata :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْهَدُ أَنِّي عَلَى دِينِ إِبْرَاهِيمَ
“Ya Allah sesungguhnya aku bersaksi bahwasanya aku penganut agama Ibrahim”. (H.R. Bukhari no: 3541).
Benar apa yang dinyatakan oleh Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur’an mengenai Ibrahim :
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (Q.S. Ali Imraan : 67).
Ujian yang menimpa Nabi Ibrahim sangat banyak. Namun beliau tabah menerima dan menjalaninya. Perjuangan da’wah beliau dalam menegakkan tauhid telah terukir dalam al-Qu’an.
Orang pertama yang dida’wai adalah ayah beliau. Ibrahim mengajak ayah dan kaumnya kepada tauhid dengan penuh hikmah dan amat bijak. Beliau menyadarkan sang ayah dengan kata-kata yang merasuk dalam hati. Allah berfirman :
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia Berkata kepada ayahnya; “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”. (Q.S. Maryam : 41-42).
Pada ayat ini Ibrahim berusaha mengajak ayahnya agar mau berfikir dan menggunakan akalnya yang sehat. Bagaimana mungkin sesuatu disembah, padahal ia tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat dan tidak dapat memberi pertolongan? Bukankah pertolongan itu dipinta dari yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Kuasa untuk memberi pertolongan? Yaitu Allah Ta’ala yang Maha Hidup, Yang Mendengan dan Maha Memperkenankan permohonan hamba-hamba-Nya.
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya”. (Q.S. al-Furqaan : 58).
Kemudian sang anak berkata kepada ayahnya:
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”. Q.S. Maryam : 43).
Pada ayat ini, Ibrahim membertahukan kepada ayahnya bahwa dia mempunyai ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya, yaitu wahyu dari Allah Azza wa Jalla, yang menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan dia mengajak sang ayah untuk mengikutinya.
Kaum muslimin rahimakumullah….
Ayat ini mengandung pengertian bahwa jalan keselamatan satu-satunya adalah dengan menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman dan mengikuti tuntunan Rasulullah n . Setiap orang yang menyimpang dari tuntunan wahyu dan bimbingan Rasulullah n pasti akan sesat, akan menyimpang, akan tersesat di dunia dan celaka di akhirat kelak. Wal’iyaadzu billah (kita memohon perlindungan kepada Allah dari kesesatan). Bukankah Allah telah berfirman :
“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Q.S. al-An’aam : 153).
Ajakan Nabi Ibrahim terhadap ayahnya menunjukan betapa pentingnya mempelajari ilmu agama. Karena dengan mempelajarinya seorang akan mengetahui yang hak dan yang batil, yang benar dan yang salah, yang halal dan yang haram, dan tidak dapat dibayangkan bahwa seorang dapat mencapai keselamatan, atau bisa menempuh jalan yang lurus tanpa mempelajari ilmu agama.
Allah telah berfirman :
“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (Q.S. az-Zumar : 9).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Faathir : 28).
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الله أَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin, sidang shalat ‘Id rahimakumullah…..
Selanjutnya Ibrahim berkata kepada sang ayah, menjelaskan salah satu faktor utama yang menyebabkan kesesatan, penyimpangan dan jauhnya seorang dari kebenaran yaitu; pengaruh setan yang merasuk dalam dirinya.
“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”. (Q.S. Maryam : 44).
Pada ayat ini Ibrahim mengingatkan ayahnya agar jangan mengikuti jejak setan. Karena peran setan amatlah besar dalam menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Bukankah ayah kita Adam q tertipu dan tergoda oleh iblis al-la’iin (terlaknat) agar dia memakan buah terlarang? iblis telah bersumpah terhadap Allahkbahwa dia akan mendatangi manusia untuk menyesatkan dan memalingkan mereka dari jalan yang benar.
“Iblis berkata : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Q.S. al-A’raaf : 16-17).
Setan adalah musuh manusia, dan musuh yang satu ini amatlah berbahaya, dia mampu merasuk dalam tubuh manusia dan menelusuri aliran-aliran darah orang yang disesatkannya. Rasulullah n bersabda :
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ اْلإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ
“Bahwasanya setan merasuk dalam tubuh manusia menelusuri aliran darahnya”. (H.R. Bukhari no : 1897 dan Muslim no : 4040).
Namun seorang mu’min tidak boleh takut kepada setan, karena tipu daya setan itu amatlah lemah, Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah”. (Q.S. an-Nisaa’ : 76).
Lagipula setan tidak memiliki kekuatan atas orang-orang yang beriman dengan benar dan bertawakkal kepada Rabb-nya, Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya”. (Q.S. an-Nahl : 98-99).
Dalam umat ini ada seorang manusia yang sangat ditakuti oleh setan, simaklah kisah di bawah ini :
“اسْتَأْذَنَ عُمَرُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ نِسَاءٌ مِنْ قُرَيْشٍ يُكَلِّمْنَهُ وَيَسْتَكْثِرْنَهُ عَالِيَةً أَصْوَاتُهُنَّ. فَلَمَّا اسْتَأْذَنَ عُمَرُ, قُمْنَ يَبْتَدِرْنَ الْحِجَابَ. فَأَذِنَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْحَكُ. فَقَالَ عُمَرُ: “أَضْحَكَ اللَّهُ سِنَّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ”. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “عَجِبْتُ مِنْ هَؤُلاَءِ اللاَتِي كُنَّ عِنْدِي, فَلَمَّا سَمِعْنَ صَوْتَكَ ابْتَدَرْنَ الْحِجَابَ. قَالَ عُمَرُ : “فَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يَهَبْنَ”, ثُمَّ قَالَ عُمَرُ: “أَيْ عَدُوَّاتِ أَنْفُسِهِنَّ! أَتَهَبْنَنِي وَلاَ تَهَبْنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟! قُلْنَ: “نَعَمْ, أَنْتَ أَغْلَظُ وَأَفَظُّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ”.
“Pernah suatu ketika Umar meminta izin untuk menemui Rasulullah n, ketika itu ada beberapa wanita Quraisy yang sedang menemui beliau. Mereka sedang berbicara dan banyak bertanya kepada beliau sambil mengangkat suara-suara mereka. Ketika Umar minta izin untuk menemui beliau, mereka segera berlari menuju balik tabir. Rasulullah n pun mengizinkan Umar sambil tertawa. Maka Umar berkata: “Engkau tertawa wahai Rasulullah ! beliau berkata : “Aku heran terhadap wanita-wanita itu. Ketika mereka mendengar suaramu, mereka langsung berlari menuju balik tabir. Umar berkata : “Engkau lebih berhak disegani wahai Rasulullah”. Lalu ia (Umar) berkata : “Hai wanita-wanita yang berlari, apakah kamu segan kepadaku dan kamu tidak segan kepada Rasulullah n ? “Ya, engkau lebih keras dan lebih kaku daripada Rasulullah n” kata mereka. Rasulullah n pun bersabda :
“وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ”
“Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu kamu sedang berjalan di suatu jalan, melainkan dia akan menempuh jalan lain selain jalanmu”. (H.R. Muslim no : 4410).
Setan hanya bisa menguasai orang-orang yang menjadikannya sebagai pemimpin dan wali-wali mereka, Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”. (Q.S. an-Nahla : 100).
Maka bentengilah diri kita dengan iman dan tawakkal sepenuhnya kepada Allah, bentengilah diri kita dengan ilmu dan amal saleh, niscaya Allah akan melindungi kita dari kejahatan iblis dan balatentaranya, baik dari golongan jin maupun manusia.
Kaum muslimin, sidang shalat ‘Id rahimakumullah…..
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الله أَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kita kembali ke kisah Nabi Ibrahim; selanjutnya beliau berkata kepada ayahnya :
“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb yang Maha pemurah, maka kamu pun akan menjadi kawan bagi syaitan”. (Q.S. Maryam : 45).
Pada ayat ini, Ibrahim mengingatkan kepada ayahnya akibat dari mengikuti jalan setan, seorang akan mendapat azab Allah. Karena sesungguhnya azab Allah hanya akan ditimpakan kepada orang-orang yang mengikuti ajakan setan.
Setan memiliki langkah-langkah dalam menyesatkan manusia atau menyimpangkan mereka dari jalan yang benar. Di antara langkah-langkahnya adalah menjadikan manusia kufur dan syirik kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman :
“Seperti (bujukan) syetan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, iapun berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam”. (Q.S. al-Hasyr : 16).
Orang yang keluar dari naungan wahyu Allah, akan terjerat dalam perangkap syetan. Orang yang terjerat dalam perangkapnya dan tidak bertobat kepada Allah, niscaya dia akan dimasukkan kedalam azab-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
“Telah ditetapkan terhadap syetan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka”. (Q.S. al-Hajj : 4).
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu), karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Q.S. Faathir : 6).
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الله أَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum muslimin, sidang shalat ‘Id rahimakumullah…
Perjuangan da’wah tauhid memerlukan keikhlasan, kesungguhan dan pengorbanan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabiyyullah Ibrahim q.
Pada era globalisasi ini, di mana umat Islam menjadi “santapan musuh”, mereka ditekan untuk melepaskan prinsip-prinsip dasar mereka, kami mengajak kaum muslimin untuk menyatukan;
- Niat kita; yaitu mengikhlaskan segala amal dan ibadah kita untuk Allah semata, Allah berfirman :
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah ajaran agama yang lurus”.(Q.S. al-Bayyinah : 5).
Karena inilah misi terbesar Nabi Ibrahim q yaitu mewujudkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
- Menyatukan tujuan kita yaitu membela dan menolong agama Allah dengan segala kemampuan yang kita miliki; orang yang berharta, dengan hartanya. Yang berilmu dengan ilmunya, yang mempunyai keahlian dengan keahliannya dan seterusnya, inilah tujuan hidup yang mulia, yang insya Allah diberkahi oleh Allah Ta’ala, Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam Telah Berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. (Q.S. Shaff : 14).
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Q.S. Muhammad : 7).
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”(Q.S. al-Hajj : 40).
- Menyatukan langkah kita; yaitu ta’awun ‘alal birri wattaqwa (tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) di atas Syariat Allah dan sunnah Rasulullah n Allah Ta’ala berfirman :
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.(Q.S. al-Ma’idah : 2).
Bukan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, bukan tolong menolong dalam menjual aqidah dan keyakinan dengan dunia yang murah, bukan tolong-menolong dalam kemungkaran.
4. Menyatukan misi dan visi yaitu upaya penyelamatan umat manusia dari kebinasaan dan azab Allah, dengan menegakkan tauhid dan menjaukan kesyirikan, menegakkan sunnah dan menjauhkan berbagai perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Nabi n dalam agama dan para sahabat beliau, melaksanakan ketaatan dan menjauhi berbagai kemungkaran dan kekejian, yang semua itu merupakan penyebab utama bagi turunnya azab dan siksaan Allah kepada manusia.
Allah Ta’ala berfirman :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(Q.S. al-A’raaf : 96).
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. al-An’am: 82).
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kam], Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Q.S. al-Anfaal : 24).
“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”.(Q.S.al-Anfaal : 25).
Tidaklah Allah menurunkan azab melainkan karena perbuatan dosa manusia. Oleh karena itu jika kita ingin dijauhi dari azab dan musibah, marilah kita memperbaiki amal perbuatan kita. Marilah kita menyiapkan diri untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak dengan memperbanyak amal saleh. Hidup kita di dunia yang hanya sekali ini, marilah kita jadikan sebagai kehidupan yang berarti dan bermanfaat bagi diri kita dan berguna bagi orang banyak. Nabi n bersanda :
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Sebaik-baik manusia orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya”. (H.S.R. Tirmidzi)
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الله أَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin sidang shalat Id rahimakumullah…
Menutup khutbah kami ini, marilah kita memanjatkan do’a kepada Allah Ta’ala; semoga Dia menerima semua amal ibadah kita, bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji semoga menjadi haji yang mabrur, diberi keselamatan hingga kembali menemui sanak famili mereka. Demikian pula yang berkurban, semoga korban mereka diterima Allah dan dijadikan pada timbangan amal kebaikan mereka di akhirat kelak, amiin.
Do’a ………………….
Disampaikan pada hari raya Idul Adha; bertempat di Kampus STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Ali bin Abu Thalib- Surabaya,
Kamis, 10 Dzulhijjah 1428
20 desember 2007
Oleh,
al-Ustadz Mubarak bin Mahfudh Bamu’allim Lc.





