Direktori Artikel

STAI ALI BIN ABI THALIB
Subscribe

Archive for the ‘Bahasa Arab’

Syair Teruntuk Ayahanda

June 15, 2009 By: admin Category: Bahasa Arab, syair No Comments →

Teruntuk Ayahanda

Ketika Ayah Ahmad Syauqi wafat, beliau berdiri seraya melantunkan beberapa bait syairnya yang ia tujukan teruntuk ayahanda tercinta. Ia berucap:

يَا أَبِيْ وَالْمَوْتُ كَأْسٌ مُرَّةٌ                               لاَ تَذُوْقُ النَّفْسُ مِنْهَا مَرَّتَيْنِ

كَيْفَ كَانَتْ سَاعَةٌ قَضَيْتَهَا                                كُلُّ شَيْئٍ قَبْلَهَا أَوْ بَعْدُ هَيْنِ

أَشَرِبْتَ الْمَوْتَ فِيْهَا جُرْعَةً                             أَمْ شَرِبْتَ الْمَوْتَ فِيْهَا جُرْعَتَيْنِ

Ayahanda, kematian bak pahitnya segelas minuman

Takkan hingga dua kali jiwa ini dapat merasakan

Bagaimanakah dahulu saat-saat indah kau habiskan?

Segalanya, sebelum atau sesudah begitu cepat terlewatkan

Cukupkah hanya sekali ini ayah meneguk kematian

Atau, akankah hingga dua kali engkau dapat merasakan? (more…)

Bahasa Arab, Bahasa Yang Mulia…

December 31, 2008 By: admin Category: Bahasa Arab No Comments →

Bahasa Arab, Bahasa Yang Mulia….

Sesungguhnya bahasa Arab adalah pintu memahami al-Qur’an, bagian inti syariat agama dan kunci memahami Islam. Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas kosa katanya, paling baik dalam pengungkapannya dan paling mulia diantara bahasa-bahasa yang ada.

Oleh karena itu, Allah -subhanallah wa ta’ala- menurunkan al-Qur’an dengan bahasa yang paling mulia, kepada ), melalui malaikat yang palingrRasul yang paling mulia (Muhammad mulia (Jibril -alaihi salam-), di lembah yang paling mulia di dunia ini (Mekkah), dan permulaan diturunkannya adalah di bulan yang paling mulia yaitu Ramadhan, maka sempurnalah kemuliaan dari segala segi. (Tafsir Ibnu Katsir 1/178, lihat Ithaful Ilfi hal. 14, karya Syaikh Musa Alu Nashr dan Syaikh Salim al-Hilali) (more…)

Ummu Aiman pun Menangis

December 31, 2008 By: admin Category: Islam, Tazkiyatun Nufus, syair No Comments →

Ummu Aiman pun Menangis

Anas bin Malik bercerita: Abu Bakar berkata kepada Umar sepeninggal Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-: Bawalah kami ke kediaman Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu juga mengunjunginya. Sesampainya di sana, ternyata Ummu Aiman sedang menangis. Abu Bakar dan Umar bertanya: Apa yang membuatmu menangis? Segala yang ada di sisi Allah tentu lebih baik bagi Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Ia menjawab: Aku menangis bukan karena aku tidak tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wa sallam-, tetapi aku menangis karena wahyu dari langit telah terhenti. Ternyata ucapannya itu menggugah hati mereka berdua dan akhirnya merekapun larut dalam isak tangis bersamanya. (HR. Muslim, no. 2454) (more…)